Showing posts with label Lukman Sardi. Show all posts
Showing posts with label Lukman Sardi. Show all posts

Penerima Guardians e-Awards 2011

THE 5TH ANNUAL GUARDIANS e-AWARDS

Receivers


For movies & albums released during the Eligibility Year August 1, 2010 through September 30, 2011
Winners are taken by public voting (October 10 – November 25, 2011)


- Movie of the Year: Di Bawah Lindungan Ka'bah (Dir. Hanny R. Saputra. Prod. Dhamoo Punjabi, Manoj Punjabi / MD Pictures)


- Leading Actor: Lukman Sardi (Sang Pencerah)


- Leading Actress: Laudya Cynthia Bella (Di Bawah Lindungan Ka'bah)


- Supporting Actor: Rudy Wowor (Darah Garuda)


- Supporting Actress: Atiqah Hasiholan (Darah Garuda)


- Director: Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)


- Screenplay: Hanung Bramantyo (Sang Pencerah)


- Cinematography: Padri Nadeak (Darah Garuda)


- Film Editing: Cesa David Luckmansyah (?)


- Art Direction: Allan Sebastian (Di Bawah Lindungan Ka'bah)


- Music: Djaduk Ferianto (Khalifah)


- Sound: Dwi Budi Priyanto, Boom Suvagondha (Darah Garuda)


- Visual Effects: Adam Howarth, Graham Riddell (Hati Merdeka)


Untuk Lucky Voters, Anda dapat kenang-kenangan dari kami:

1. Danu Setya (Bontang)
2. Nastiti K. (Jakarta)
3. Meiske Syeila (Jakarta)
4. Arrbel Bellaers (Bandung)
5. Ade Smassh (Jakarta)

Anda akan dihubungi melalui phone atau e-mail. Terima kasih untuk partisipasi Anda semua di GeA 2011!


Salam kompak,


MG

STAR OF THE YEAR: 2010

LUKMAN SARDI



A 39-year-old Man Cannot Be Underestimated

We feel there is nothing wrong with Lukman Sardi being crowned as our STAR OF THE YEAR. This is the time. Such moments are rarely found in our country. An artist get an absolute credibility status within one year. Who can do?

The son of a big star, yet he was surprisingly far from glam life. Practically normal social life. Almost nobody knows that he pursued acting before Gie (2005). In his childhood, he has supported a number of films such as: Kembang-Kembang Plastik (1978) and Pengemis dan Tukang Becak (1979). But it's in a film directed by Riri Riza that Lukman finally found his momentum.


Post-Gie, he's done a great leap forward from a supporting to a leading role in Rudi Soedjarwo's 9 Naga. Unexpectedly, his appearance as a hitman bagged him applause that never subsides. Dozens of films have been completed in short years. Perhaps, other than Tora Sudiro, he was the busiest actor in this decade. Although some of Lukman's works were not too good.

Can we say, he fell several times in choosing roles. These include: Pesan dari Surga (2006), The Photograph (2007), Kawin Kontrak (2008) and Merah Putih (2009). In the first film, he couldn't turn himself into a gay naturally. He looked so awkward. In the last three films, he (again) looked plain and lack of self-confidence.

Lukman's eyes are not only his strength but also his weakness in the same way. With this eye, he can play all the different kinds of genres and roles. But with this forte he can't help it either. Lukman's eyes are the eyes of actors, very honest.

No doubt, hard work and dedication has paid off very well. Some of best offerings from Lukman, among others e.g. : as Herman Lantang in Gie (2005), as Marwan in 9 Naga (2006), as Paklik in Berbagi Suami (2006), as Umar in Nagabonar Jadi 2 (2007), as Piktor in Quickie Express (2007), as Aryan Hidayat in In the Name of Love (2008), as Gandang in May (2008), as Yopie in Red CobeX (2010), as Amir in -he's playing better here than before- Darah Garuda (2010) and of course... as Ahmad Dahlan in Sang Pencerah (2010).


In the full hands of Hanung Bramantyo, Lukman finally has the reputation as an actor of calibre. This was the coveted role of any actors. Being the title role, playing in the biopic film, technically speaking; was one of this year's best! Lukman has been deserved for this great role. He successfully placed himself in the front line with this work.

Do you still need a proof? Sang Pencerah had innumerable of wonderful scenes and sequences. A random example, a sequence at the Kweekschool Jetis, Yogyakarta. When he teaches first-class students about the importance of saying "Alhamdulillah". Things only Lukman can do.

We could care less about the Festival Film Indonesia (FFI) result this year. Because one admirable work has been wasted there. Yes, hopefully Lukman and Hanung know that their film was successful commercially and artistically, also becomes our nation's pride. Plus, there was a reliable actor in it!



(MG/231210. Photo Credit: Lukman Sardi)

Movie Review: Darah Garuda


Merah Putih (2009) meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Tidak seperti pada kebanyakan orang sini yang mengulas film debut Yadi Sugandi sebagai sutradara, kecewa.  Memang menurut siapa, harus giat mengedarkan bubuk mesiu dan banyak mengumbar baku tembak untuk melabeli sebuah film dengan kata ‘perang’?

Padahal genre ini cakupan plotnya sangat luas. Pertama, ya bisa itu tadi, baku tembak antara dua kubu. Lalu bisa juga konflik antarpersonal, antarkelompok, antarsuku, hingga antarnegara. Bahkan diskusi mengenai strategi penyerangan diatas meja bundar pun sudah bisa dikelompokkan kedalam war movies. Kecewa karena tidak seperti Saving Private Ryan (1998)?

Jangan berani membandingkan sebuah film dengan mahakarya Steven Spielberg itu. Tidak usah jauh-jauh ke Hollywood, sudah menonton Lewat Djam Malam (1955) dan Doea Tanda Mata (1985) belum? Dua film itu dan juga -yang belum saya tonton- Darah dan Doa (1950) disebut sebagai beberapa dari sedikit film perang Indonesia terbaik yang pernah ada, menurut beberapa kritikus ternama lokal maupun asing. Meski tanpa mengobral peluru dan bom sepanjang film.

Benang merahnya terletak pada peristiwa perang itu. Jika subplot-nya kemudian menyebar kemana-mana menjadi hak prerogatif investor, produser, distributor, penulis skenario dan sutradara. Prioritas untuk menampilkan seberapa banyak porsi aksi berada ditangan mereka. Merah Putih memang belum bisa memuaskan penggemar film aksi/laga kelas berat, mengingat banyak tokoh dikenalkan dan komunikasi yang terbangun diantara mereka mendominasi durasi.

Kemudian, bagaimana dengan sekuelnya?


Berkaitan dengan plot dan subplot, Darah Garuda (DG) masih konsisten. Tidak ada penyelewengan seperti kebanyakan film nasional. Conor Allyn dan Rob Allyn mengaturnya dengan bijak. Setelah eksposisi yang cukup di Merah Putih, mereka mencoba mendalami karakter-karakter lain yang belum tergali seperti Dayan, Vaan Gaartner, Lastri, Yanto, Budi, dan Kyai. Usaha mereka membuahkan hasil yang baik untuk  dua nama pertama. Kuartet berikutnya sayangnya, tidak.

Tokoh Lastri, Yanto, Budi, dan Kyai bisa dibilang prematur untuk berada di dalam plot utama. Mereka tiba-tiba masuk tanpa pengenalan tentang apa yang mereka lakukan sebelumnya. Sebagai contoh, dari mana Lastri berasal dan dimana ia bertemu dengan rombongan Amir? Atau bagaimana hubungan Yanto dan Budi sebelum akhirnya Yanto tertangkap basah berkhianat? Juga Kyai yang tampil sekelebat. Padahal keempatnya memicu konflik penting dalam cerita. Inilah yang menyebabkan DG tidak bisa menyamai eksposisi Merah Putih, kendati seperti yang saya bilang diatas tadi, plot dan sub-subnya masih padu.

Bersyukur konflik dan klimaksnya mengalir lancar. Sejujurnya, konflik baru menarik setelah Van Gaartner menawan Dayan. Bagian klimaks DG juga sangat sayang untuk dilewatkan. Satu lagi non-antiklimaks setelah Rumah Dara, MPdVP, dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini).


Tata artistik oleh Iri Supit seharusnya bisa lebih baik dari ini. Selain untuk markas Belanda, belum ada tataan lokasi yang dimaksimalkan secara visual untuk mengimbangi waktu kejadian peristiwa. Juga untuk tata wardrobe. Kembali ke 1947, rasanya pakaian penduduk pribumi kelas bawah (lihat sekuen di Pasar) dan seragam serdadu Belanda tidak semencolok itu. Berbeda dengan tata rias wajah, prostetik, dan special effects yang sangat meyakinkan (lihat Tomas di climax scene).

Seperti juga film perang lain, hand-held camera cukup banyak diterapkan. Cukup efektif untuk mengajak penonton merasa terbawa kedalam rasa takut. Kali lain ketika kamera bergerak melebar, kita seperti sedang melihat camp dari jendela rumah. Untuk ini perlu diberikan kredit kepada Padri Nadeak.

Selain efek khusus tadi, tata suara, musik dan sunting yang masing-masing dipegang oleh Boom Suvagondha, Thoersi Argeswara, serta Sastha Sunu adalah kekuatan utama film berdurasi sekitar 100 menit dan berbiaya sekitar Rp 50 Milyar ini. Worth it!

Jika Merah Putih telah menempatkan Donny Alamsyah (Tomas) ke posisi atas aktor terbaik Indonesia, tidak diragukan lagi. Kali ini DG membuat Teuku Rifnu Wikana (Dayan) mengikuti jejak ‘petani Manado’. Tidak sia-sia debutnya sebagai extras dalam Mengejar Matahari (2004). Satu lagi bakat besar hasil temuan Rudi Soedjarwo.

Saya tidak bisa mengatakan Rudy Wowor (Van Gaartner) orang pertama atau kedua yang mencuri perhatian disini. Yang pasti, ia dan Teuku paling menonjol.  Dalam scene terakhir, getaran emosinya begitu kuat dan menjadi paradoks atas karakternya yang arogan.

Rahayu Saraswati (Senja) dan Atiqah Hasiholan (Lastri) memberikan contoh kepada aktor dan aktris lain bahwa dengan method acting tidak berarti kaku dan belum tentu lebih buruk dari natural acting. Disini mereka berdua tampil sekelas dengan Ayu Laksmi dalam Under the Tree (2008).

Kali ini, Lukman Sardi (Amir) dan Darius Sinathrya (Marius) lebih rileks bermain ketimbang sebelumnya. Astri Nurdin (Melati) dan Ario Bayu (Yanto) tampil bagus. Kyai (Alex Komang) dan Budi (Aldy Zulfikar) terhalang skenario.

Saya rekomendasikan sekuelnya bagi Anda yang kecewa dengan Merah Putih.

Keyword: The Big Parade (1925), Schindler's List (1993), Saving Private Ryan (1998), The Thin Red Line (1998)



4/5



(KP/270910)