Showing posts with label Atiqah Hasiholan. Show all posts
Showing posts with label Atiqah Hasiholan. Show all posts

The Best Dressed of 2010

 This is our record of this year's best-dressed figures



Atiqah Hasiholan at FFI 2010, Central Park Jakarta
Date: Dec 6


Ruth Sahanaya at her 25th Anniversary Concert, JCC Senayan Jakarta
Date: November 11





Atiqah Hasiholan at Indonesian Movie Awards 2010, Jitec Mangga Dua Jakarta
Date: May 5


Dewi Sandra at Bazaar Fashion Concerto 2010, JCC Senayan Jakarta
Date: December 1



Acha Septriasa at Citra Lasting White Launch, Djakarta Theatre
Date: April 20


 Surya Saputra at FFI 2010, Central Park Jakarta
Date: Dec 6


 Shareefa Daanish at Rumah Dara Premiere, Blitz Megaplex Jakarta
Date: January 11


 Nadine Alexandra Dewi Ames at Duta Wasior Press Gathering, JCC Senayan Jakarta
Date: October 23


 Ian Antono at FFI 2010, Central Park Jakarta
Date: Dec 6


 Restu Sinaga at FFI 2010, Central Park Jakarta
Date: Dec 6


Olivia Lubis Jensen at FFI 2010, Central Park Jakarta
Date: Dec 6

Photo Credits: KapanLagi.com, Atiqah Hasiholan

The Coronation of the New LUX Star Indonesia














 
Photo Credit: KapanLagi.com/ Aditia Saputra/ dka

Atiqah Hasiholan: New LUX Star Indonesia


Well, honestly we don't know what to say except WOW!

Our happiness knows no bounds, because our last year's Star of the Year has just been named as the New LUX Star Indonesia. With all its joy, Mellyana's Guardians (MG) congratulate Atiqah Hasiholan for the title.

In fact, some of new LUX star candidates have been leaked several times. But only Atiqah Hasiholan, Acha Septriasa, Marsha Timothy, and Julie Estelle came to our mind. We're pretty sure about them. This idea has also been reinforced by ISI (Indonesia's Showbiz Insiders) poll on their website, only a surprise of Carissa Puteri.

And a very proud thing for us, a member of MG's team had mentioned two years ago, that the most prospective new LUX star was Atiqah. Yes, thanks to Rudi who's explicitly posted predictions and photos of Atiqah on Detik Forum, in 2008 :)

Now what? Let this night, and the following nights be the first step for Atiqah to achieve her dreams in the world she's always been in love, acting.

Here are some articles about Atiqah's celebration:

Ini Dia Bintang LUX Pengganti Luna Maya
Empat Alasan Lux Memilih Atiqah Hasiholan
Atiqah Hasiholan: Ini Impian Setiap Artis...
Atiqah: Saya Enggak Terlalu Menarik untuk Digosipkan
Atiqah Hasiholan Bintang Lux Baru
Atiqah Hasiholan Jadi Bintang Lux Baru
Who Will Be The Next Lux Star?


Link Credits: Kompas, Berita 21, Kapanlagi, ISI
Photo Credit: LUX Indonesia


(MG/031110)

Movie Review: Darah Garuda


Merah Putih (2009) meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Tidak seperti pada kebanyakan orang sini yang mengulas film debut Yadi Sugandi sebagai sutradara, kecewa.  Memang menurut siapa, harus giat mengedarkan bubuk mesiu dan banyak mengumbar baku tembak untuk melabeli sebuah film dengan kata ‘perang’?

Padahal genre ini cakupan plotnya sangat luas. Pertama, ya bisa itu tadi, baku tembak antara dua kubu. Lalu bisa juga konflik antarpersonal, antarkelompok, antarsuku, hingga antarnegara. Bahkan diskusi mengenai strategi penyerangan diatas meja bundar pun sudah bisa dikelompokkan kedalam war movies. Kecewa karena tidak seperti Saving Private Ryan (1998)?

Jangan berani membandingkan sebuah film dengan mahakarya Steven Spielberg itu. Tidak usah jauh-jauh ke Hollywood, sudah menonton Lewat Djam Malam (1955) dan Doea Tanda Mata (1985) belum? Dua film itu dan juga -yang belum saya tonton- Darah dan Doa (1950) disebut sebagai beberapa dari sedikit film perang Indonesia terbaik yang pernah ada, menurut beberapa kritikus ternama lokal maupun asing. Meski tanpa mengobral peluru dan bom sepanjang film.

Benang merahnya terletak pada peristiwa perang itu. Jika subplot-nya kemudian menyebar kemana-mana menjadi hak prerogatif investor, produser, distributor, penulis skenario dan sutradara. Prioritas untuk menampilkan seberapa banyak porsi aksi berada ditangan mereka. Merah Putih memang belum bisa memuaskan penggemar film aksi/laga kelas berat, mengingat banyak tokoh dikenalkan dan komunikasi yang terbangun diantara mereka mendominasi durasi.

Kemudian, bagaimana dengan sekuelnya?


Berkaitan dengan plot dan subplot, Darah Garuda (DG) masih konsisten. Tidak ada penyelewengan seperti kebanyakan film nasional. Conor Allyn dan Rob Allyn mengaturnya dengan bijak. Setelah eksposisi yang cukup di Merah Putih, mereka mencoba mendalami karakter-karakter lain yang belum tergali seperti Dayan, Vaan Gaartner, Lastri, Yanto, Budi, dan Kyai. Usaha mereka membuahkan hasil yang baik untuk  dua nama pertama. Kuartet berikutnya sayangnya, tidak.

Tokoh Lastri, Yanto, Budi, dan Kyai bisa dibilang prematur untuk berada di dalam plot utama. Mereka tiba-tiba masuk tanpa pengenalan tentang apa yang mereka lakukan sebelumnya. Sebagai contoh, dari mana Lastri berasal dan dimana ia bertemu dengan rombongan Amir? Atau bagaimana hubungan Yanto dan Budi sebelum akhirnya Yanto tertangkap basah berkhianat? Juga Kyai yang tampil sekelebat. Padahal keempatnya memicu konflik penting dalam cerita. Inilah yang menyebabkan DG tidak bisa menyamai eksposisi Merah Putih, kendati seperti yang saya bilang diatas tadi, plot dan sub-subnya masih padu.

Bersyukur konflik dan klimaksnya mengalir lancar. Sejujurnya, konflik baru menarik setelah Van Gaartner menawan Dayan. Bagian klimaks DG juga sangat sayang untuk dilewatkan. Satu lagi non-antiklimaks setelah Rumah Dara, MPdVP, dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini).


Tata artistik oleh Iri Supit seharusnya bisa lebih baik dari ini. Selain untuk markas Belanda, belum ada tataan lokasi yang dimaksimalkan secara visual untuk mengimbangi waktu kejadian peristiwa. Juga untuk tata wardrobe. Kembali ke 1947, rasanya pakaian penduduk pribumi kelas bawah (lihat sekuen di Pasar) dan seragam serdadu Belanda tidak semencolok itu. Berbeda dengan tata rias wajah, prostetik, dan special effects yang sangat meyakinkan (lihat Tomas di climax scene).

Seperti juga film perang lain, hand-held camera cukup banyak diterapkan. Cukup efektif untuk mengajak penonton merasa terbawa kedalam rasa takut. Kali lain ketika kamera bergerak melebar, kita seperti sedang melihat camp dari jendela rumah. Untuk ini perlu diberikan kredit kepada Padri Nadeak.

Selain efek khusus tadi, tata suara, musik dan sunting yang masing-masing dipegang oleh Boom Suvagondha, Thoersi Argeswara, serta Sastha Sunu adalah kekuatan utama film berdurasi sekitar 100 menit dan berbiaya sekitar Rp 50 Milyar ini. Worth it!

Jika Merah Putih telah menempatkan Donny Alamsyah (Tomas) ke posisi atas aktor terbaik Indonesia, tidak diragukan lagi. Kali ini DG membuat Teuku Rifnu Wikana (Dayan) mengikuti jejak ‘petani Manado’. Tidak sia-sia debutnya sebagai extras dalam Mengejar Matahari (2004). Satu lagi bakat besar hasil temuan Rudi Soedjarwo.

Saya tidak bisa mengatakan Rudy Wowor (Van Gaartner) orang pertama atau kedua yang mencuri perhatian disini. Yang pasti, ia dan Teuku paling menonjol.  Dalam scene terakhir, getaran emosinya begitu kuat dan menjadi paradoks atas karakternya yang arogan.

Rahayu Saraswati (Senja) dan Atiqah Hasiholan (Lastri) memberikan contoh kepada aktor dan aktris lain bahwa dengan method acting tidak berarti kaku dan belum tentu lebih buruk dari natural acting. Disini mereka berdua tampil sekelas dengan Ayu Laksmi dalam Under the Tree (2008).

Kali ini, Lukman Sardi (Amir) dan Darius Sinathrya (Marius) lebih rileks bermain ketimbang sebelumnya. Astri Nurdin (Melati) dan Ario Bayu (Yanto) tampil bagus. Kyai (Alex Komang) dan Budi (Aldy Zulfikar) terhalang skenario.

Saya rekomendasikan sekuelnya bagi Anda yang kecewa dengan Merah Putih.

Keyword: The Big Parade (1925), Schindler's List (1993), Saving Private Ryan (1998), The Thin Red Line (1998)



4/5



(KP/270910)

Ruma Maida (Guardians e-Awards 2010 Nominee)

STAR OF THE YEAR: 2009

ATIQAH HASIHOLAN


This girl started her professional film career in 2006 through movie Berbagi Suami (Love for Share). She was the one who played one of Pak Haji's (El Manik) young wives. Not many know that Tika (her nickname) started her career from theater. She had joined theater since she was an elementary school student. Afterward, her performance that stole the attention was in a horror-flick by Viva Westi, Suster N (2007). Here's the first time we have to appreciate Tika's acting via GeA (Guardians e-Awards) as one of the Leading Actress nominees. A year later she became a karaoke girl in Cinta Setaman (2008). This year she entered again the same box with Jamila dan Sang Presiden (J&SP). Unfortunately she lost once again, this year Ayu Laksmi's work in Under the Tree has been chosen by the voters more. However, Tika has successfully played a supporting role as good as main role in one year. This is what makes MG (Mellyana's Guardians) appreciate her performances and we finally decided she is the Star of the Year.


During 2009, Tika has played in three quality films. They were: Pintu Terlarang (PT), J&SP and Ruma Maida (RM). In PT, she played Claudia - a supporting role- Herosase receptionist. In MG's movie review of PT, we praised Tika has a better chance to play Talyda (played by Marsha Timothy). After that she appeared in J&SP as the leading role, a movie tells about human trafficking, directed by her own mother, Ratna Sarumpaet. Here, her acting talent looked more natural and she didn't hesitate to appear without makeup on her face. But her best performance of the year is in RM of course. As an idealistic young woman named Maida - again in the leading role- who fight for education. In this beautiful film directed by Teddy Soeriaatmadja, Tika was able to connect viewers to the era where nationalism to strive for. Through this role she's been nominated as the Best Actress in Festival Film Indonesia (FFI) for the first time.



No one denied when calling her pretty and talented. Of course we could not agree more. In addition, she used to pursue modeling. But she became very attractive because of the way she set her career is different from other young artists. She has a special uniqueness. Tika doesn't sell gossips and physical beauty to be noticed by people. She's not an instant star nor chasing popularity. Her arrival has given a different shade for Indonesian showbiz. She can be a role model for every newcomer, that to be successful do not follow trend. Everybody should have an idealism and don't be a commodity. That's what we see from Atiqah Hasiholan, our STAR OF THE YEAR.


(MG/241209/ Photo by: Female Magazine)

Pintu Terlarang - The Review


“Ini nggak lucu, Joko!”


Kabar kerja sama novelis Sekar Ayu Asmara dengan sutradara Joko Anwar yang tersiar sejak tiga tahun silam dibuktikan hari ini dalam sebuah film berjudul Pintu Terlarang (PT). Selang dua tahun setelah novel PT dirilis pada 2004, Joko Anwar berkewajiban merancang skenarionya. Tidak mudah sepertinya bagi Joko mewujudkan cerita fiktif yang diklaim sebagai novel thriller terlaris di Indonesia ini. Sehingga baru pada awal 2008 tahap pra-produksi film dimulai.


Siapa menduga kerja keras mereka selama ini berbuah hasil manis? PT melenggang ke The 38th International Film Festival Rotterdam yang telah dimulai sejak 21 Januari kemarin hingga 1 Februari nanti. Let's see what's up out there.


Sebenarnya menurut cerita beberapa orang yang sudah membaca novelnya, PT termasuk karya mainstream gaya Sekar. Kenapa begitu, karena seperti yang sudah-sudah, tulisan Sekar tak jauh beranjak dari psikologi dan mistis. Menular pula pada film-filmnya macam Belahan Jiwa (2005) dan Pesan dari Surga (2006). Ketika mendengar PT akan dilayarperakkan, saya sedikit tergelitik dengan hasil eksekusinya. Maklum, ada nama Joko di kursi sutradara. Sekar tak lagi menulis skenario dan mengarahkan film. Akankah tulisan Sekar kali ini lebih 'nyambung' di film?


Ringkas cerita, Gambir (Fachri Albar) merupakan buah kegagalan orang tua dalam mendidik anak. Gambir terlahir dari seorang mantan pekerja seks komersial, Menik Sasongko (Henidar Amroe). Parah bagi Gambir, ibunya bertemperamen kasar dan brutal. Masih ditambah pula sikap ayah tirinya yang apatis -selain juga abusive- menjadi andil dalam membentuk karakter Gambir di kemudian hari.


Gambir dewasa berprofesi sebagai seniman patung. Ia berhasil menciptakan karya yang dijunjung tinggi komunitas kelas atas, tapi sebenarnya palsu belaka. Adalah orang-orang di sekitarnya yang bertanggung jawab atas setiap gerak langkah Gambir. Termasuk Talyda (Marsha Timothy), perempuan manipulator yang di akhir film menjadi pemuncak semua kegagalan Gambir sebagai manusia.


PT tak bisa dibandingkan dengan Janji Joni (2005) atau Kala (2007). Kali ini Joko murni mengedepankan kebutuhan komersial. Sedikit menyegarkan untuk penonton horor/thriller Indonesia yang selama ini justru tak takut ketika figur setan/hantu hinggap di layar dengan extreme close-up sekalipun. Atmosfir 'takut' dibangun Joko dengan pengambilan shot-shot clueless yang efektif merajut dengan adegan berikutnya. Runtut dan solid.


Sayangnya, PT bukanlah karya orisinal Joko. Ia begitu banyak mengadopsi teknik film-film horor/thriller dari barat. Sah saja memang, toh ia pasti sadar betul dengan resiko mengambil film bergenre psycho-thriller. Di Amerika, film macam ini sudah populer sejak dekade 60-70an dan tak terhitung berapa ratus yang sudah mencetak box office. Beberapa diantaranya malah dibuatkan versi cover-nya hingga sekarang. Jangan berharap banyak akan gaya sinema a la Joko. Disini ia cukup membuktikan kualitasnya dibanding sineas horor domestik saja. Tak lebih.


Jujur saja, Joko tidak mempunyai sense of thriller yang baik. Selama film berjalan, saya sering tersenyum kecut dan beberapa kali menggumam, “Ini nggak lucu.” Coba saja tonton, niscaya akan Anda temui beberapa adegan dan dialog yang tidak pas untuk jenis film macam ini. Terlihat begitu dipaksakan. Saya sendiri sampai lupa di part mana, saking banyaknya.

Namun selalu ada pencerahan setiap kali menyaksikan karya Joko. Departemen artistiknya yang selalu berhasil menyita perhatian. Wencislaus (Kala, Perempuan Punya Cerita) kembali 'mengunci' film dengan paket propertinya yang lengkap. Segala kebutuhan otak (5W1H) terjawab setiap kali Wencislaus berkarya. Sangat memuaskan.

Tata musik yang dikepalai Aghi Narottama terlalu berlebihan. Mengingat ini bukan horor, tetapi thriller.

Sedangkan tata suara saya berikan skor 80, satu level di bawah Under the Tree (2009).

Penghuni kursi cast juga tidak bergerak banyak. Fachri Albar masih saja mengandalkan tampang 'pecandu kokain'. Mungkin ia pilihan yang tepat untuk Joko, karena selalu bisa menyetel mukanya sedemikian rupa seperti 'selera' Joko. Hingga setiap gerak mata dan komat-kamit bibirnya sangat khas Fachri Albar. Di manapun, berperan sebagai siapapun, Fachri akan selalu begini. Percayalah, he has no range or whatever...

Marsha Timothy sangat menyedihkan. Meleset jauh dari dugaan saya. Di scene Talyda merajuk Gambir di depan gallery, Marsha kelihatan begitu kartun dengan dialog, “I love you, Gambir... I love you, Gambir.” Intonasi manja perlu dihilangkan jika ingin berkembang, Marsha!

Pemain lain yang terbilang senior seperti Henidar Amroe dan Tio Pakusadewo setali tiga uang. Tidak ada sesuatu yang baru dari mereka -jika tak bisa dibilang jelek. Ariyo Bayu mengalami penurunan akting, di PT ia malah terlihat seperti laki-laki gay -yang seharusnya kontra 360 derajat dari karakternya sebagai Dandung.

Atiqah Hasiholan sebenarnya berpeluang besar untuk memerankan Talyda, sayang disini ia diberi peran kecil. Mungkin karena produser film adalah kakak dari sang pemeran utama perempuan?


Sudahlah, lebih baik saya menonton Psycho-nya Alfred Hitchcock saja daripada mengomentari PT lebih banyak.


3/5