Showing posts with label Reza Rahardian. Show all posts
Showing posts with label Reza Rahardian. Show all posts

5 Films to Watch in Month 5

The Avengers 3D (Avengers Assemble)
Marvel Studios / Walt Disney Pictures


Trailer:


Genre: Action, Adventure, Sci-Fi
Director: Joss Whedon
Cast: Robert Downey, Jr., Chris Evans, Mark Ruffalo, Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Tom Hiddleston,
Samuel L. Jackson
Release Date: May 4, 2012


Dark Shadows
Warner Bros.


Trailer:

Genre: Fantasy, Comedy, Horror
Director: Tim Burton
Cast: Johnny Depp, Michelle Pfeiffer, Helena Bonham Carter, Eva Green, Jackie Earle Haley
Release Date: May 11, 2012


Dangerous Ishhq 3D
Reliance Entertainment / Dar Motion Pictures / BVG Films


 Trailer:


Genre: Thriller
Director: Vikram Bhatt
Cast: Karisma Kapoor, Rajneesh Duggal, Divya Dutta, Jimmy Shergill, Ruslaan Mumtaz, Arya Babbar
Release Date: May 11, 2012


BrokenHearts
Starvision Plus


Trailer:


Genre: Drama
Director: Helfi Kardit
Cast: Julie Estelle, Reza Rahadian, Darius Sinathrya, Meriam Bellina, Anto Hoed, Melly Goeslaw
Release Date: May 16, 2012


Men in Black 3 3D
Columbia Pictures / Amblin Entertainment


Trailer:


Genre: Action, Comedy, Sci-Fi
Director: Barry Sonnenfeld
Cast: Will Smith, Tommy Lee Jones, Josh Brolin, Alice Eve, Jemaine Clement, Emma Thompson, Nicole Scherzinger
Release Date: May 25, 2012

Movie Review: Love Story

Photo Credit: Starvision Plus

Kalau Anda masih ingat, dalam sebuah scene dari Love is Cinta (LiC, 2007), terpampang sebuah baliho film bertuliskan “Love Story”. Mungkin Anda waktu itu cuma berpikir baliho tersebut adalah properti biasa. Mungkin juga ada diantara Anda yang menerka itu sebagai snippet dari proyek berikutnya. Kalau begitu, maka benar. Empat tahun berselang, baliho itu kini kembali dipajang. Meski tanpa embel-embel brand rokok dan kartu seluler.

Chand Parwez dan Hanny R. Saputra, penemu duet Acha Septriasa-Irwansyah, masih setia menggunakan formula cerita roman untuk memuaskan 'dahaga' penonton remaja yang menjadi sasaran produk mereka. Tak berlebihan sebenarnya. Karena setelah Heart (2006) memang sepasang artis remaja generasi baru telah lahir. Setelah Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra tidak lagi bisa disebut remaja, siapa lagi memangnya?

Namun Chand dan Hanny sepertinya lupa bahwa sukses satu formula tak bisa diterapkan dalam setiap karya mereka. Apakah mereka masih kurang mencermati kenapa LiC bisa gagal meraup penonton? Tak sebanding dengan outcome Chand kala itu. Bahkan seperti pengakuannya sendiri, “...rugi babak belur,” dalam majalah Swa, tahun 2009 silam. Ekspektasi Chand yang terlampau tinggi pada dua bintang lejitannya ini tak diimbangi dengan penyegaran ide dan kualitas cerita.

Love Story (LS) bisa saja mengembalikan kepercayaan publik pada Starvision -PH milik Chand- andai sang produser mau mengadakan survey dan riset pasar. Kenapa begitu? Karena PH tak hanya harus tahu target produknya, tetapi juga musti mengetahui 'apa maunya' target mereka, apa yang dikehendaki penonton. Sangat salah jika menganggap penonton akan menerima apa saja yang disuguhkan selama bintangnya sama. Penggemar Acha dan Irwansyah tentunya sudah bertambah usia, mereka tidak mau disodori cerita cheesy dan dialog puitis (dan hiperbolis) lagi.

Ya, meskipun konflik yang coba ditawarkan kali ini lebih serius, yakni mendirikan sebuah sekolah. Tetapi sangat tidak rasional untuk seorang yang baru lulus kuliah tiba-tiba mendirikannya, beserta sebuah kincir air raksasa. Dalam 3 hari lagi. Lalu bagaimana dengan perkembangan karakter? Tidak ada. Karena konflik berjalan di tempat. Padahal, conflict is the heart of drama.

Peluang untuk menuju plot yang bagus sebenarnya dimulai sejak adegan pembuka. Tepatnya ketika tokoh Galih (Irwansyah) dan Ranti (Acha Septriasa) masih ber-Sekolah Dasar. Disini, mulai timbul ketertarikan pada kedua karakter utama ini. Apalagi ketika Galih mengintip Ranti yang menceritakan keinginannya menjadi guru ketika ia besar nanti. Sayangnya, adegan yang seharusnya dilanjutkan dengan pendalaman, langsung dipangkas dengan adegan 'potong rambut' yang merusak mood.

Photo Credit: Starvision Plus

Setelahnya, Armantono (penulis skenario) membingungkan penonton dengan mana yang akan dijadikan plot, cinta atau sekolah. Meski secara materi, dari pertama layar dibuka sampai ditutup, ide mendirikan sekolah yang menjadi plot. Baru kisah cinta menjadi subplot-nya, bersama dengan mitos 'desa terpisah sungai'. Dalam penggambarannya, percintaan diberi porsi lebih, dan tentu saja mengurangi 'jatah' sekolah yang sungguh aneh, cuma ditampilkan dalam rangkaian imej repetitif: mengangkat batang-batang kayu.

Sudah begitu, karakter pendukung utama seperti Ayah (Reza Pahlevi) dan Nenek (Henidar Amroe) tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan kenapa ada mitos. Mereka hanya menjadi penyampai pesan yang baik. Tak lebih.

Ide cerita LS sebenarnya menarik. Jika diwujudkan dalam film bersetting klasik murni, akan jauh lebih baik. Mungkin, hanya asumsi saya, Chand tidak mau kehilangan modal untuk yang kedua kalinya. Maka ia  memilihkan kostum modern untuk Galih dan Ranti yang sangat kontras dengan latar cerita dimana mereka tinggal, desa terpencil tanpa akses listrik. Karena untuk sebuah film klasik ia paling tidak harus memiliki anggaran dua kali lebih besar dari yang sekarang. Atau mungkin juga ia ingin menggaet penonton di kota besar dengan kostum itu. Sang Pencerah (2010) tak dijauhi penonton kota walau wardrobe-nya sangat kuno, sebagai perbandingan saja.

Apalagi yang bisa saya katakan tentang Acha Septriasa. Satu poin saja, pembentukan suaranya sudah lebih matang. Dalam climax scene, ia menyumbangkan salah satu dari Best Scenes in Indonesian Cinema. Ia lah reinkarnasi Jenny Rachman. Andai Kabut Sutra Ungu (1979) dibuatkan remake, ia bisa jadi pilihan yang tepat. Kalau Anda masih menganggap ia tidak cakap berakting, maka Anda seorang ignorant. Saran dari saya langsung buat Anda, ambillah acting course. Setelah kurang lebih tiga bulan, kembalilah kepada saya, dan katakan argumen Anda.

Sebuah kejutan, Irwansyah bisa juga bermain dalam range dengan kedalaman tingkat tinggi. Jika diberi kesempatan lebih, rupanya ia bisa unjuk gigi. Reza Pahlevi biasa saja. Tidak miscast, tidak juga menonjol. Pemain lain seperti Henidar Amroe, Reza Rahardian, dan Maudy Koesnadi juga tidak mengejutkan. Pas saja. Saya heran kenapa banyak orang menyebut nama Reza dengan istimewa meski disini ia hanya cameo yang terhalang skrip. Give credit where it's due.

LS memang berhasil mengeksplor kemampuan akting dari para pemain utamanya, tetapi ternoda oleh frustrating plot. Jadi untuk Chand dan Hanny, berhati-hatilah jika ingin mengulang kesuksesan dengan formula yang sama. People will pay more to be entertained than educated.


2/5


(MG/280111)

Penerima Guardians e-Awards 2010






Inilah Pilihan Anda





THE 4TH ANNUAL GUARDIANS e-AWARDS

Receivers


For movies & albums released during the Eligibility Year July 1, 2009 through June 30, 2010
Winners are taken by public voting (July 7 – August 30, 2010)
Note: More than 1 (one) winner in a category is the result of voting






Indonesian Awards


MOVIE AWARD


- Movie of the Year: Minggu Pagi di Victoria Park (Dir. Lola Amaria. Prod. Sabrang Mowo Damar Panuluh, Dewi Umaya Rachman / Pic[k]lock Production)


- Leading Actor: Reza Rahardian (Emak Ingin Naik Haji)


- Leading Actress: Shareefa Daanish (Rumah Dara)


- Supporting Actor: Didi Petet (Jermal)


- Supporting Actress: Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park)


- Director: The Mo Brothers (Rumah Dara), Deddy Mizwar (Alangkah Lucunya (Negeri Ini))


- Screenplay: Sally Anom Sari, Sammaria Simanjuntak (cin(T)a), Titien Wattimena (Minggu Pagi di Victoria Park)


- Cinematography: Yadi Sugandi (Minggu Pagi di Victoria Park)


- Film Editing: Herman Kumala Panca (Rumah Dara)


- Art Direction: Indra Tamorron Musu (Ruma Maida)


- Music: Aksan Sjuman, Titi Sjuman (Minggu Pagi di Victoria Park)


- Sound: Satrio Budiono, Suhadi (Merantau)


- Visual Effects: Asep Sopyan, Bambang (Rumah Dara)




MUSIC AWARD


- Album of the Year: GIGI (Gigi / Universal Music Indonesia), Angels and Outsiders (Superman Is Dead / Sony Music Indonesia)


- Song of the Year: Cinta Pertama dan Terakhir (Sherina)


- Male Artist: Dalam Suatu Masa (Anda)


- Female Artist: Cinta Pertama dan Terakhir (Sherina)


- Duo/ Group with Vocals: T.G.I. Friday (RAN)


- New Artist: Zigaz






International Awards


MOVIE AWARD


- Movie of the Year: Avatar (Dir. James Cameron. Prod. Lightstorm Entertainment; Twentieth Century Fox)


- Leading Actor: Tahar Rahim (A Prophet/ Un Prophète) *France, George Clooney (Up in the Air)


- Leading Actress: Meryl Streep (Julie & Julia)


- Supporting Actor: Christoph Waltz (Inglourious Basterds)


- Supporting Actress: Mo'Nique (Precious: Based On The Novel Push By Sapphire)


- Director: James Cameron (Avatar)


- Screenplay: Jason Reitman, Sheldon Turner (Up in the Air)


- Cinematography: Barry Ackroyd (The Hurt Locker)


- Film Editing: Stephen E. Rivkin, John Refoua, James Cameron (Avatar), Bob Murawski, Chris Innis (The Hurt Locker)


- Art Direction: Rick Carter, Robert Stromberg, Kim Sinclair (Avatar)


- Music: Michael Giacchino (Up)


- Sound: Paul N.J. Ottosson, Ray Beckett, Craig Stauffer (The Hurt Locker)


- Visual Effects: Joe Letteri, Stephen Rosenbaum, Richard Baneham, Andy Jones (Avatar)




MUSIC AWARD


- Album of the Year: The Fame Monster (Lady Gaga / Streamline/Interscope/Konlive/Cherrytree)


- Song of the Year: Baby (Justin Bieber feat. Ludacris)


- Male Artist: Haven't Met You Yet (Michael Bublé)


- Female Artist: You Lost Me (Christina Aguilera)


- Duo/ Group with Vocals: I Gotta Feeling (The Black Eyed Peas)


- New Artist: Drake, Melanie Fiona




Special Award (presented by Mellyana's Guardians): Jermal (Dir. Ravi Bharwani, Rayya Makarim, Utawa Tresno. Prod. Orlow Seunke / Occo Films)


Lifetime Achievement Award (presented by Mellyana Manuhutu): Deddy Mizwar, Christine Hakim, Elfa Secioria, Vina Panduwinata


15 Bintang Pilihan 2010

Perasaan bahagia dan terharu mewarnai hari-hari Mellyana's Guardians (MG) yang akan berusia 5 (lima) tahun pada 19 Januari ini. Terus terang bagi kami yang bermula dari sebuah fans club artis penyanyi dan entrepreneur Mellyana Manuhutu, tidak pernah menyangka akan berumur sepanjang ini. Ya, lima tahun buat sebagian orang relatif dini. Tetapi bagi kami tidak. Lima tahun kami definisikan sebagai umur untuk "menghargai kerja empat tahun lalu dan mensyukuri nikmat setahun terakhir."

Untuk itulah, kami hendak mengungkap syukur dengan menyampaikan tanda setia kepada figur-figur istimewa yang menjadi bagian MG. Terima kasih terutama kami haturkan kepada Mellyana Manuhutu yang telah mendampingi dan kami dampingi selama lebih dari lima tahun. Mellyana Manuhutu bukan sosok yang biasa bagi kami. Ia adalah penyanyi yang menerjemahkan intuisi dan spirit musik R&B secara sejati. Melly tidak tergerus oleh zaman dan konsistensinya terhadap musik yang diakuinya sebagai 'jiwa'nya akan selalu menjadi 'inner power'nya. Kedua, bagi teman-teman yang ikut membidani lahirnya MG: Mediary, Yorie, Fanny, Tyni dan Tata. Tanpa kalian mustahil MG bisa berdiri sampai hari ini. Kami sangat merindukan masa-masa dimana untuk pertama kalinya tercetus komunitas ini. Ketiga, untuk kolega setia: Prakaça Kasmir dan Aldi Wirya. Kami tahu selama ini telah banyak merepotkan, tetapi yakinlah dari hati kami yang paling dalam teruntai doa untuk Anda berdua. Keempat, rekan-rekan pekerja seni dan nara sumber yang telah banyak membantu kami dalam penyediaan informasi dan toleransinya untuk berbagi dengan kami. Terakhir dan tak pernah akan cukup, kepada Member MG. Sebuah kehormatan bagi kami untuk bisa mengenal Anda dan terima kasih sekali atas dukungan moral-spiritual yang senantiasa terkirim untuk kami.

Dan inilah 15 Bintang Pilihan MG yang diprediksikan akan berpendar terang selama tahun 2010:

1. Reza Rahardian (Aktor)
2. Mo Brothers (Sutradara, Scriptwriter)
3. Acha Septriasa (Aktris)
4. Hanung Bramantyo (Sutradara)
5. GIGI (Band)
6. Shareefa Daanish (Aktris)
7. White Shoes and The Couples Company (Band)
8. Kania Sutisnawinata (Presenter)
9. Titien Wattimena (Scriptwriter)
10. Gita Gutawa (Penyanyi, Aktris)
11. Netral (Band)
12. Tina Talisa (Presenter)
13. Coreana Agashi (Model)
14. Edwin Lau (Chef, Presenter, Model)
15. Andra and The Backbone (Band)


Salam hangat,


Mellyana's Guardians

(KP/150110)

Perempuan Berkalung Sorban - The Review



Siapa bilang sinema perempuan hanya milik kaum perempuan? Hanung Bramantyo -berjenis kelamin laki-laki- sangat peduli dengan 'nasib' perempuan. Setidaknya telah ia buktikan dalam beberapa filmnya seperti: Brownies (2005), Get Married (2007), sang fenomenal Ayat-Ayat Cinta (2008) hingga yang terbaru, Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Dalam semua film itu, Hanung menjadikan perempuan sebagai tokoh utama cerita yang mempunyai sikap dan pemikiran sendiri untuk menentukan ke arah mana hidupnya berjalan. Memang Brownies masih menyisakan sedikit pertanyaan menggelayut di benak penonton -menyangkut orientasi sikap dan pandangan tokoh utama- tetapi tidak dengan ketiga judul terakhir.

Wajarnya women's cinema, maka yang tertangkap di layar masih seputar isu perempuan, pergerakan perempuan dan pasti, feminisme. Tidak hanya feature film, tetapi juga film pendek, non-fiksi dokumenter dan drama-dokumenter sudah banyak ditelaah sejak awal kemunculannya di tahun 1896. Paket telaah sinema perempuan tersebut meliputi: peran kaum perempuan dan partisipasinya dalam film, resepsi dan persepsi audiens terhadap perempuan dalam film, serta akibat yang ditimbulkan dari munculnya film tentang perempuan tersebut.

Alice Guy Blache memproduksi The Cabbage Fairy pada 1896, dan diikuti oleh lima film di tahun berikutnya, termasuk juga The Bewitched Fiance dan He. Jurnalis film barat menjadi sangat bergairah akan sinema perempuan segera setelah itu.

Akhirnya sampai juga ke negara timur, dengan didominasi India yang penduduknya paling bermasalah dengan isu kesetaraan jender. Perempuan dalam agama Hindu hakikatnya penyembah kaum laki-laki. Tidak berbeda jauh dengan kondisi di Indonesia yang sebagian besar penganut Islam. Agama mayor di negara kita ini sangat lekat dengan aturan kaum laki-laki yang dianggap sebagai “pemimpin” kaum perempuan. Benarkah demikian? Untuk lebih jelasnya, silakan tonton PBS.

Dari komposisi gambar, PBS menawarkan sinematografi dimensional karya Faozan Rizal (Banyu Biru/ 2005, Maskot/ 2005, Ayat-Ayat Cinta/2008, Doa yang Mengancam/ 2008). Jangan pandang sebelah mata padanya, karena sudah banyak film pendek dan feature-filmnya yang melenggang dari Pusan hingga Singapore International Film Festival. Faozan juga pernah mengambil gambar untuk The National Geographic Channel dan membuat seri dokumenter untuk saluran News Asia. Ia bahkan mengarahkan aktris Hollywood Susan Sarandon sebagai narator program tersebut. PBS ditilik dari sudut sinematografi sebenarnya berpotensi mendapat nilai A. Sayang tidak dibarengi dengan pemilihan sudut pengambilan gambar yang baik. Shot-shot baku dibidik begitu saja tanpa ada penemuan mutakhir, jadi tak ada bedanya dengan AAC. Saya agak ragu, apakah ada campur tangan Hanung di bagian ini. Jika benar sangat disayangkan. Sebab, Faozan mempunyai skill kelas advance. Sia-sia jika kreativitasnya 'dirusuhi' pihak lain.

Artistik dikerjakan oleh Oscart Firdaus yang pernah memegang Best Friend (2008) dan Doa yang Mengancam (2008). Seperti tak percaya melihat kerja Oscart, ia sangat teliti dan mendetil. Saya terhenyak ketika melihat poster film Saur Sepuh 4 yang dibuat sama persis dengan aslinya tahun 1992 silam. Begitu pula dengan pernak-pernik di setting pesantren Al Huda, gedung bioskop Jogja dan Pasar Jombang. Sangat meyakinkan.

Tya Subiakto seperti bersenyawa dengan film Hanung. Tata musik yang ia garap kali ini terbilang lebih smooth dan lebih padu ketimbang AAC yang ia garap sebelumnya. Sementara tata sunting (Wawan I. Wibowo) dan skenario (Ginatri S. Noer dan Hanung Bramantyo) bagi saya tidak terlalu bagus. Sekelas dengan tata suara.

Adimolana dan Adityawan Susanto (Get Married, AAC) tak bekerja terlalu banyak. Dengan kata lain tata suara PBS tidak mencuri perhatian. Sorry to say for the dynamic duo, u did an average job. Khusus buat Adityawan, karya Anda kurang menggigit kali ini. Back-sound dan voice-over terdengar rapuh dan tidak mendukung suara utama yang keluar dari dialog para tokohnya.

Revalina S. Temat (Annisa) mengemban tugas berat sebagai pemeran utama perempuan dalam film Hanung Bramantyo. Untuk kerja kerasnya ini, saya dengan rela memberinya nilai 80. Saya antusias untuk menunggu film Revalina selanjutnya. Akan menyenangkan jika ia tidak tampil dengan karakter yang sama.

Reza Rahardian (Samsuddin) menjadi kuda hitam PBS. Ia seingat saya bukanlah aktor yang diperhitungkan. Oh, saya lupa ia (dulu) memang bukan aktor. Saya baru ingat ia pernah 'menemani' Sheila Marcia Joseph di Film Horor (Scary Movie versi Indonesia). Tidak disangka, perkembangan aktingnya sedemikian pesat hingga ia betul-betul menjelma menjadi Samsuddin yang binal dan manipulatif. Penampilan fisiknya mirip Dwi Sasono. Hanya bedanya, akting Reza jauh lebih matang ketimbang seniornya itu.

Widyawati (Ibu Nyai) mengobati kerinduan penonton pasca Love (2008). Maaf sedikit menyalahi pepatah lama, Tak ada gading yang retak untuk aktris satu ini. Lihat scene Annisa dilempar rajam oleh para santri dan Ibu Nyai datang membela sang anak dengan memungut sebongkah batu. Begitu pun dalam scene Ibu Nyai menimang jabang bayi sambil memandang Annisa yang berhalusinasi tentang mendiang suaminya. Tatapan Widyawati, tatapan sang Ibu Nyai, sungguh menggetarkan.

Oka Antara (Khudori) tak jelek, juga tak bagus. Aksen bicaranya perlu diperbaiki, meski ekspresinya sudah cukup fixed on. Joshua Pandelaki (Kyai Hanan) mengulang karakternya seperti di Radit dan Jani (2008). Eron Lebang (Reza), jelas miscasting. Wajah dan mimiknya terlalu 'urban' untuk menjadi santri dari Jawa Timur.

Jika ingin menonton film impor Red Cliff, saya sarankan tonton dulu PBS. Jangan sebaliknya, supaya tak terlalu kecewa dan akhirnya bilang, “Tahu gitu mending nggak usah nonton...”


3/5