Rudi Soedjarwo: Where Has The Real Talent Been?

Apa kabar Rudi Soedjarwo? Terakhir hanya Hantu Rumah Ampera, filmnya yang tayang di bioskop, setahun lalu. Setelah itu, MG tidak mendengar kabar keterlibatan Rudi dalam satu proyek film pun. Apakah ia mulai menepi dari dunia yang telah membesarkan namanya? Rupanya tidak. Kami sangat bersyukur ketika mendengar dari Rudi langsung bahwa ia sedang mempersiapkan sebuah casting besar berjudul Giliran Muke Loe. Dus, gayung bersambut. Belakangan ini kami merasakan apa yang Rudi rasakan. Regenerasi aktor film Indonesia berjalan sangat lamban.

Menurutnya, selama tiga tahun terakhir ia dilanda kebosanan luar biasa karena tidak menemukan bakat baru yang bisa direkrutnya. Bisa dipahami, sebab iklim di Indonesia mirip India a.k.a. Bollywood. Jika seorang aktor sudah memperoleh nama dan kenaikan honor lewat satu film, ia cenderung akan melupakan tanggungjawabnya sebagai aktor dan lebih "menjual" posisi tawarnya saat itu. Setidaknya, ia akan rakus menerima semua tawaran yang datang.

Padahal sistem "kejar setoran" seperti ini sangat tidak baik untuk sang aktor sendiri. Hal ini pun diakui oleh aktris senior Lenny Marlina dalam acara Just Alvin tempo hari. Lenny mengatakan ia membintangi 15 judul film setahun pada masa jayanya. "Sebetulnya nggak baik, kita tidak bisa konsentrasi. Karena tawaran yang begitu banyak, saya nggak bisa menolak," ujarnya. Jika sudah begitu, mana bisa sang aktor belajar akting? Padahal akting bukan sesuatu yang bisa ditandai dengan ijazah, lulus dan selesai. "Sebetulnya menyiksa diri kita," tandas Lenny di program yang disiarkan Metro TV.

Akting adalah hal memperbaharui diri dan menaikkan standar performa. Bukan repetisi, bukan pula stereotype, apalagi in the comfort zone. Sayangnya, karena lemahnya standar industri film Indonesia saat ini mengakibatkan sutradara dan aktor menjadi korban. Karena harus tetap mengais Rupiah, mau tidak mau mereka menerima tawaran sekenanya. Lebih buruk lagi, pinangan produser lebih banyak ditujukan untuk pemilik paras rupawan dan fisik nyaris sempurna. Tidak ada lagi kaidah-kaidah akting yang dipakai. Jadi, sebenarnya bukan aktor yang sedang bermain film. Tetapi bisa si Robert atau si Laura yang menghapal skenario dan disorot kamera.

Rudi datang dengan sesuatu yang baru dan pertama di Indonesia, menggelar kontes akting lewat media online. Akan berhasilkah Rudi menemukan "the real talent" yang selama ini didambakannya? Jika Anda membaca tulisan ini, jangan buang waktu lagi. Percayalah pada kami, Rudi Soedjarwo adalah sutradara film Indonesia yang tidak pernah mementingkan tampilan fisik. Kalau ia mau, ia bisa saja merekrut puluhan pemain dengan tampang keren untuk tampil di filmnya. Namun Rudi bukan sutradara macam itu.

Berikut perbincangan MG dengan laki-laki berusia 38 tahun yang senang menggunakan kata "bikin" dan "luar biasa" dalam dialog kesehariannya.



(Photo Credit: Rudi Soedjarwo)

Mellyana's Guardians (MG): Sebelumnya selamat untuk proyek Giliran Muke Loe. Bukankah ini langkah yang terbilang berani buat Anda yang dikenal idealis?

Rudi Soedjarwo (RS): Justru ini adalah proyek saya yang paling idealis. Giliran Muke Loe (GML) saat ini baru soft launch sebenarnya sembari improve teknis IT (Information Technology) dan communication materials-nya. Hard launch resmi Insya Allah setelah Lebaran. Amin.

MG: Karena di website resmi-nya tercantum "1,000,000 Pendaftar. 1,000 Finalis. 100 Pemenang." Tidak khawatir ada sindiran dari industri?

RS: Ini adalah target yang paling idealis karena target ini sangat sulit dicapai. Tapi ini sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 230 juta jiwa.


MG: Ya, karena belakangan ini sesama sineas gemar mengomentari rekan seprofesinya. Tanggapan Anda?

RS: Itulah orang Indonesia, senang berkomentar. Mau bilang apa saya, marah tidak bisa. Toh saya tidak marah pun tetap dikomentari juga. Anggap saja bunga-bunga kehidupan (tertawa).


"Semuanya proses sampai akhirnya saya sampai di titik dimana tidak mau membuang waktu lagi dengan membuat film yang tidak penting"


MG: Kenapa syaratnya utamanya tidak boleh "cakep"?

RS: Masalahnya "cakep" itulah yang selama ini dicari oleh industri, karena dianggap "jualan" sehingga menjadi penghalang bagi bakat-bakat baru. Yang jelas, "nggak cakep" lebih banyak dari yang "cakep", tapi tidak bisa membuktikan kemampuannya. Industri sudah menutup diri buat mereka ("nggak cakep") karena dianggap "nggak menjual".


MG: Sementara Anda tengah mencari "bakat". Bukankah tidak semua orang "cakep" tidak berbakat?

RS: Saya tidak bilang semua orang "cakep" tidak berbakat, tapi yang "cakep" sudah terakomodir selama ini oleh industri dan tidak perlu takut tidak tertampung. Namun, secara psikologis hal ini justru membuat saya berpikir jangan-jangan gara-gara ini bakat-bakat tersembunyi di pelosok tanah air sudah "kalah" duluan dan jadi malas datang lagi ke tempat audisi karena mereka pikir "Yaaah, dah pasti yang cakep itulah yang diterima.." GML datang khusus mengakomodir kaum minoritas di industri tapi mayoritas jumlahnya secara angka. Saya berharap mereka tahu bahwa buat GML, "tampang" tidak dinilai dan yang "nggak cakep" bisa terdorong tampil percaya diri.


MG: Bagaimana dengan umur?

RS: Memang, tidak hanya penampilan dan tampang yang kami khususkan. Bahkan kami pun berusaha mendorong masyarakat usia lanjut diatas 50-60an untuk berani tampil. Posisi pemeran utama untuk umur ini juga telah kami siapkan. Umur segitu dengan bakat luar biasa sekarang sudah sangat sulit kita temukan. Padahal cerita membutuhkan karakter di umur ini cukup banyak dan penting.


"Sudah 3 tahun terakhir saya buka audisi yang datang itu-itu saja.
Sehingga saya jenuh dan putus asa, nyaris males bikin film lagi"


MG: Anda dulu juga pernah menangani audisi Selangkah Menjadi Bintang Layar Lebar 2008. Apa yang berbeda kali ini?

RS: Sangat berbeda. Waktu itu saya hanya membantu teman produser dan EO (Event Organizer), karena saya sutradara dan kebetulan menangani film mereka. Jadi secara kreatif saya tidak terlibat penuh, begitu pula visi dan misinya.


MG: Anda adalah sutradara yang terkenal fanatik dengan aktor berwajah asli Indonesia. Lalu kenapa ada Dewi Rezer di Rumah Ketujuh, Nino Fernandez di In the Name of Love, dan Sabai Morscheck di 40 Hari Bangkitnya Pocong?

RS: Ya, itulah bukti bahwa selama ini saya tidak punya kontrol penuh terhadap visi dan misi sebuah project, saya akan terbentur dengan kompromi-kompromi.


MG: Banyak produser bilang, artis blasteran lebih disukai penonton. Padahal menurut kami, masyarakat akan menerima siapapun yang disuguhkan produser, terutama untuk media televisi. Bagaimana menurut Anda?

RS: Saya setuju sekali. Media televisi dan produser punya peran penting untuk menjaga tetap balanced. Karena itu juga bagian dari pendidikan buat masyarakat (penonton). Karena mereka pasif menerima saja apa yang ada di depan mata, dan jelas semakin dominan yang disuguhkan akan mempengaruhi, satu: taste mereka dan dua: kekayaan referensi masyarakat kita dalam menerima sesuatu atau seseorang.


MG: Jadi sebenarnya salah siapa?

RS: Salah yang punya media dan produser yang tidak punya mentalitas mendidik masyarakat dengan memperkaya referensi mereka. Media dan produser yang only money-oriented tanpa memikirkan perkembangan bangsa.

"Saya saja juga sudah tidak nyaman. Makanya jarang datang ke premiere. Tak tahu. It doesn't feel like home anymore"


MG: Benarkah pemenang dari kontes akting ini akan menjadi pemeran utama film kolosal perang garapan Anda?

RS: Iya, itu komitmen kami hundred percent. Semua yang terlibat adalah dari peserta, baik utama maupun pendukung. Syarat utama tidak boleh punya pengalaman jadi pemeran utama di film atau sinetron. Sekali lagi ini untuk lebih mendorong lagi supaya mereka yakin sepenuhnya GML memang khusus dari, dan untuk mereka. Sehingga mereka bisa all out, tampil percaya diri.


MG: Kenapa perang, bukan yang lain?

RS: Karena saya pikir selama ini mereka sulit dapat kesempatan, maka ketika mendapatkan itu kita mau memberikan yang terbaik. Sebuah film yang bahkan pemain-pemain ngetop pun belum tentu dapat kesempatan main di scope seperti itu. Dan bukan komedi atau drama yang bisa dibikin gampang tiap hari. Melainkan sebuah film "besar" dengan tema yang "penting".


MG: Siapa saja yang terlibat dalam film ini?

RS: Jujur, saya cuma dibantu seorang teman produser, Tyas Moein. Lalu dua orang IT, dan dua sahabat saya yang membantu di 9 Naga. Mereka partner saya. Satu lagi, penulis skenario baru dari Tasikmalaya yang saya sendiri belum pernah bertemu dengannya (tertawa).


"Saya selalu berjabat tangan dengan sineas senior"


MG: Sepertinya Anda mulai menjauh dari genre yang selama ini menjadi trademark Anda, drama dan roman.

RS: Bukan menjauh, tapi semuanya berproses. Ya itulah hidup. Saya terjun ke film awalnya juga kebetulan, kemudian flowing saja belajar film dengan bikin film sendiri. Kadang filmnya bagus atau jelek, meski tidak pernah niat bikin jelek. Maklum, manusia. Kemudian umur juga bertambah, punya anak dan keluarga. Semuanya proses sampai akhirnya saya sampai di titik dimana tidak mau membuang waktu lagi dengan membuat film yang tidak penting.


(Photo Credit: Rudi Soedjarwo)

MG: Bagaimana Anda melihat suasana perfilman Indonesia saat ini yang tak terarah?

RS: Suasananya? Saya saja juga sudah tidak nyaman. Makanya jarang datang ke premiere. Tak tahu. It doesn't feel like home anymore. Saya malah lebih banyak bergaul di tengah komunitas non-film.

MG: Boleh tahu siapa saja filmmaker yang menginspirasi Rudi Soedjarwo?

RS: Arifin C. Noer dan Clint Eastwood.


MG: Kapan sineas senior dan sineas muda akan berjabat tangan?

RS: Saya selalu berjabat tangan dengan sineas senior. Karena saya berada di usia tengah, umur tidak muda lagi jadi tidak bisa dibilang sineas muda. Belum sepintar yang senior juga (tertawa).


MG: Kami berharap Anda bisa melanjutkan perjuangan. Karena cuma Anda dan Hanny R. Saputra, sineas muda yang kami pikir mewarisi darah filmmaker senior Indonesia dalam membuat film.

RS: Jujur, alasan awal kenapa saya keluar ide GML yang dikemas secara IT based ini karena sudah 3 tahun terakhir saya buka audisi yang datang itu-itu saja. Sehingga saya jenuh dan putus asa, nyaris males bikin film lagi. Berhubung sudah kepepet banget, now or never. Artinya kalau dengan cara terakhir ini saya tidak bisa juga menemukan, bisa jadi saya akan benar-benar berhenti bikin film sampai muncul "orang-orang" itu. Karena ketika membuat film dengan hati yang jenuh, nggak sreg pada akhirnya kualitas filmnya juga yang kena. Akhirnya jadi capek sendiri dan putus asa. GML lahir ditengah keputusan untuk kembali menggunakan bakat-bakat baru seperti jaman saya membuat Ada Apa dengan Cinta? (AADC), Mengejar Matahari, dan 9 Naga.



(MG/270810 *Thanks to Mas Rudi yang selalu antusias bertukar pikiran di waktu No Buka & Sahur Time-nya :) )

3 comments:

Anonymous said...

menakar pendapat om rudy sujarwo,saya setuju sekali om kalau di negara ini apa-apa serba dikomentarin.padahal lum tentu si komentator itu lebih bae.contohnya? buanyak!

Anonymous said...

thanks yach udah nampilin wawancara ini....kangen sama mas rudi,.kapan bikin film kolosalnya nie?

Anthony De Woc said...

Langkah yang cukup luar biasa, ditengah semaraknya wajah2 indo yang merambah perfilman indonesia,

sukses buat mas Rudi Sudjarwo dan GML, goodluck,

"do the best" for indonesian Movie