Menebus Impian


Pentingnya Angka Bagi Hanung Bramantyo

Hanung Bramantyo rupanya mulai ketagihan dengan sesuatu bernama “angka”. Pertama, ia menyebutkan dana Rp 5 Milyar untuk pembuatan film terbarunya. Kedua, ia mengklaim film itu sudah dipesan oleh 350 ribu calon penonton lewat metode pre-sales, dan baru sekalinya ini diterapkan di Indonesia! Ketiga, ia dan timnya mengatakan 30 persen dari rakyat Indonesia (atau sekitar 4 juta orang, menurutnya) menerjuni profesi multi-level marketing (MLM), dan mereka ini yang menjadi TO (target operasi) dari film tersegmen ini. Keempat, tercatat 9 kali draft skenario dirombak olehnya bersama Titien Wattimena. Kelima, ia mengatakan filmnya akan dirilis sesuai peringatan Hari Kartini, 21 April. Oh, indahnya angka-angka...

Bayangkan, sesuatu yang tidak dialami sendiri oleh seorang Hanung Bramantyo dituangkan ke media film. Saya sendiri tidak berani. Terlalu banyak pertaruhan disana, begitu dekat dengan kata “kontroversi”. Meskipun sang sutradara sendiri sudah tahu betul resiko yang bakal ia hadapi ketika menerima pinangan pihak Unicore. Setiap pilihan adalah resiko, semua tahu itu. Tetapi, tidakkah sempat terlintas di benaknya sekali saja bahwa tema filmnya kali ini menyulut sumbu api?

Mengutip dari situs Wikipedia, MLM yang juga disebut network marketing (pemasaran jaringan), direct selling (penjualan langsung), referral marketing (penjualan terarah), dan pyramid selling (penjualan piramida) adalah istilah yang menggambarkan struktur pemasaran yang digunakan oleh beberapa perusahaan sebagai bagian dari strategi pemasaran mereka secara keseluruhan. Produk dan perusahaan biasanya dipasarkan langsung kepada konsumen dan mitra bisnis potensial melalui hubungan terpadu dan pemasaran dari mulut ke mulut.

Konon, bisnis ini sudah dilakukan di Amerika dan lebih dari 100 negara di seluruh dunia. Tetapi yang menjadi masalah dan selalu diperdebatkan adalah legalitas piramida yang mereka bentuk. Pihak MLM justru mengaku bahwa piramida itu adalah representasi diri mereka dan menurut mereka sah secara hukum. Namun menurut United States Federal Trade Commission (FTC), piramida menjadi ancaman yang berbahaya. Karena rencana membayar komisi untuk merekrut distributor baru pasti jatuh ketika tidak ada distributor baru yang dapat direkrut. Ketika rencana runtuh, sebagian besar pelaku MLM -kecuali mungkin mereka yang berada di bagian paling atas- akan mendapati tangan mereka kosong. Inilah mengapa menurut FTC, skema piramida adalah ilegal.

Lepas dari persoalan sah dan tidak sah, Hanung sudah membuat keputusan yang absolut. Ia menyetujui untuk mempertaruhkan nama baiknya demi lembaga MLM. Apakah keputusannya tepat?

Menebus Impian (MI) menjadi pelopor film bisnis di Indonesia. Bukan bisnis film. Jangan salah sangka, film sejatinya merupakan media bisnis selain untuk menyarikan aspek ideologi. Hampir di setiap film muncul merek-merek dagang yang pamfletnya tersebar di toko, iklannya muncul di radio dan televisi serta balihonya terpajang kuat di sudut-sudut kota. Mereka menjadi penyandang dana -meski tidak sepenuhnya- untuk sebuah film. Kali ini, MI membawa sesuatu yang baru dan berbeda dari yang pernah ada.

Nur Kemala Jati (Acha Septriasa) didekati (dalam bahasa MLM: diprospek) oleh Dian Septiaji (Fedi Nuril) untuk menjadi anggota (disebut juga: distributor, downline) dari sebuah lembaga MLM bernama Grand Vision. Dalam kesempatan pertama mereka bertemu, Nur tak menghiraukan ajakan Dian. Setelah mendapati ibunya, Sekar (Ayu Diah Pasha) mengidap penyakit tumor batang otak, Nur pun bersedia melakukan apa saja termasuk menjadi downline Dian. Mimpinya hanya satu, ia ingin membahagiakan ibunya. Tidak mudah bagi Nur mewujudkan mimpi sederhana itu. Ia mengalami deraan fisik dan pergulatan batin sebelum semua yang diimpikannya itu ada di depan matanya.

Bagi Nur, puncak gunung (atau piramida) yang diperkenalkan oleh Dian menjadi langkah awal untuk menebus impiannya. Benarkah ini impian Nur? Tunggu dulu. Di awal film tokoh Sekar kecil diceritakan membuat miniatur istana dari tanah liat. Istana kecil itu kemudian dirusak oleh ibunya dan kejadian itu terus membekas di benak Sekar bahkan sampai ia sendiri mempunyai anak, Nur. Apa pentingnya menghidupkan mimpi standar masa kecil tanpa alasan yang jelas? Tidak ada pendalaman karakter sama sekali.

Hampir semua orang memimpikan hidup nyaman dengan rumah bagus dan mobil mengilap. Tetapi hidup tidak melulu memikirkan hal semacam itu. Keterbatasan yang manusia sebut dengan “nasib” memaksa masyarakat ekonomi menengah kebawah untuk bekerja lebih keras dari kelompok masyarakat yang berada diatas mereka. Lalu apakah dengan menjadi miskin tidak berhak bermimpi? Tentu saja sah dan tidak haram. Yang bermasalah adalah impian akan hal-hal yang bersifat material dijadikan tema besar film ini.

MI mengajak penonton untuk berani bermimpi. Rupanya pembuat film lupa, setiap dari kita sudah mempunyai mimpi yang sama untuk hidup enak dan nyaman. Tidak perlu diajari lagi. Alih-alih menampilkan impian klise Sekar dengan istana kecilnya, kenapa tidak dibuat saja mimpi Nur untuk menyelesaikan kuliahnya dengan biaya dari bisnis MLM. Jauh akan terasa lebih baik untuk Nur sendiri dan penonton. Karena ia akan membuktikan dirinya bisa memenuhi cita-citanya dan menginspirasi orang lain bahwa untuk berhasil, butuh impian dan kerja keras. Tapi impian untuk menjadi kaya? Ah...

Bagaimana pula dengan impian Nur sebagai pribadi yang hidup di tempat yang tak berdaya? Tidakkah ia sendiri sebagai manusia tunggal juga memiliki ambisi tersendiri? Sesuatu yang bersifat duniawi lagi seperti mobil dan rumah? Tidak, jangan katakan itu. Sudah cukup Sekar saja yang bermimpi dan Nur yang mewujudkannya.


Titien Wattimena (Mengejar Matahari, Tentang Dia, LoVe) mendadak tidak berkutik lagi setelah kegagalannya merangkai cerita dalam Cinlok (2008). Kemana gairah yang menggebu-gebu dan dialog yang kontemplatif a la Titien? Setelah The Butterfly (2007), karya terakhir Titien inilah yang paling ringkih. Apakah ia tidak bisa bersenyawa dengan Hanung? Sepertinya begitu. Ritme Hanung yang serba dinamis sepertinya tidak bisa menyatu dengan kelembutan Titien.

Wawan I. Wibowo yang tahun lalu beroleh Piala Citra untuk editing dalam Pintu Terlarang (2009), tidak menampakkan follow up yang layak. Masakah ia bisa kalah dari newbie di Eagle Awards?

Musik yang digarap Tya Subiakto dan suara oleh Khikmawan Sentosa serta Trisno tidak membawa aura yang baik. Sementara musik terasa dramatis ditengah adegan yang tidak semestinya, suara kadang tidak pas dengan dialog tokohnya.

Faozan Rizal (Get Married, Ayat-ayat Cinta, Perempuan Berkalung Sorban) sekali lagi menjadi tandem yang bagus buat Hanung. Penataan fotografi lah satu-satunya hal teknis yang bisa diapresiasi, meski tidak hebat.

Lalu bagaimana dengan deretan pemain dari proyek ambisius ini?

Acha Septriasa berupaya keras mengangkat setiap scene dengan penetrasi aktingnya. Namun sayang ia tidak mendapat lawan yang sepadan. Hasilnya akting Acha hambar. Pun skenarionya sangat lesu, alhasil tidak hanya Acha tetapi semua pemain tidak bisa mengunduh hati penonton.

Fedi Nuril tidak banyak membuktikan bahwa ia pantas dijuluki aktor. Penampilannya yang cukup impresif hanya di Mengejar Matahari (2004), itu pun karena karakter Nino yang ia perankan mirip dengan karakter aslinya yang ya... begitulah.

Sejak awal rilis filmnya, nama Ayu Diah Pasha menarik minat saya. Bukan karena antusias akan aktingnya. Tetapi karena ia memegang peran sentral pertama sepanjang kariernya dan dimata saya ia selalu kekurangan chemistry dengan lawan mainnya. Tidak di sinetron, tidak di film. Setelah melihat MI, ternyata asumsi saya masih sama, tidak berubah sedikit pun. Malah sekarang sudah berkembang menjadi opini.

Kembali ke Hanung, memang benar ia mempunyai teman yang menekuni bidang MLM dan sudah berhasil. Tetapi Hanung Bramantyo bukan pelaku MLM. Ia barangkali melupakan dirinya dan orang lain yang masih awam akan MLM. Tidak ada titik dalam MI yang mengambil sudut pandang orang diluar MLM yang merasa terbantu dengan keberadaan MLM. Dan ia hanya tertarik pada angka-angka. Kalau ia menganggap angka itu penting, silakan dilanjutkan. Lagipula orientasi bisnisnya sangat kental sejak ia hinggap ke sinema Indonesia. Plato mengatakan, “A good decision is based on knowledge and not on numbers.



2/5



(KP/160410)

8 comments:

Anonymous said...

ya ampun segitu buruknya film ini sampe dapet 2 bintang? nggak jadi nonton deh

Anonymous said...

Hanung Bramantyo mulai arogan. sekarang dikit-dikit udah ngomong duit,profit dll. emang dia nggak mikir bahwa dia itu sutradara peraih Citra yg punya tanggung jawab moral? kalau cuma mentingin profit ya percuma dong 2 piala citra di tangan??

rhoree said...

fuih lega bisa lihat film terbaru acha :) kalau MG bilang kurang ayu diah pasha kurang chemistry emang bener sih. kayanya akting nangisnya nggak berasa gitu....

tapiiiii akting acha nggak hambar kok :) scene paling favorit pas dia nangis lihat nyokapnya terbaring di rumah sakit trus menggumam "kamu kuliah jam berapa Nur?" wawwwww ini sukses bikin emosi penonton naik turun.... sama scene pas di pinggir rel kereta. udah lama nggak liat adegan kayak gini di film indo.hehe....
overall... great job acha!

selebihnya MENEBUS IMPIAN kayak film dokumenter MLM :))

Anonymous said...

FILM BUSUK

Mellyana's Guardians said...

@ Rhoree: Yang terasa memang demikian :) Syukurlah kalau kamu menyukai akting Acha disini.

Rijon said...

Udah liat. Kok bisa-bisanya ya Mbak bikin resensi film ini? Saya pun ogah bikin resensi film yang menurunkan derajat "film" ini.

Sudah tahu film itu rentan akan bau-bau "bisnis" (yang memang busuk (seperti komentar anonim di atas)), lantas kenapa masih dibikin "busuk" dengan memerkeruhkan bau bisnisnya. Hahah.

Mellyana's Guardians said...

@ Rijon: Karena MG peduli pada potensi Hanung Bramantyo, makanya kami menurunkan ulasan MI.

The main point is... Jangan salahkan batu yang mengenai kaki kita, tetapi tanyakan kepada diri sendiri mengapa kita kurang waspada hingga menyandung batu itu.

Anonymous said...

menembus apa menebus impian sih judulna???