In the Name of Love

Press Release:“ Softex V Class Presents: In the Name of Love”


Setelah Ada Apa Dengan Cinta (2002) yang mempopulerkan kembali puisi di kehidupan anak muda, Mengejar Matahari (2004) dan Mendadak Dangdut (2006)-- sebuah eksplorasi kritis terhadap musik dangdut yang sering dianggap ‘terlalu meriah’--kini dengan dukungan Softex V Class --Rudi Soedjarwo kembali menggariskan arah perfilman nasional dengan sebuah film tentang perjuangan untuk cinta, dengan judul In the Name of Love. Rudi mendeskripsikan proses penyutradaraan film ini sebagai “sebuah momen yang menentukan dalam karir saya”, dalam sebuah proyek yang melibatkan nama-nama besar sebagai karakter-karakter hebat yang berkisah, bukan hanya bercerita. “In the Name of Love mengubah cara saya bercerita lewat film dan juga cara saya membuat film,” terangnya. Sedangkan bagi Softex yang menampilkan produk super premiumnya : Softex V Class, kiprah ini adalah sesuai dengan apa yang menjadi landasan strateginya untuk terus menjadi pioneer sebagai produk life style yang mengerti wanita. Softex V Class sendiri yang baru diluncurkan 5 bulan yang lalu, menurut Dyah Kartika, Marketing Communication Manager, PT Softex Indonesia, sangat sesuai dengan mutu premium dan kolosal yang dicitrakan oleh film ini. Terlebih lagi setelah repositioning selama beberapa tahun belakangan ini Softex Indonesia kini telah menjadi salah satu perusahaan sanitary napkin dan baby diaper terbesar di Asia.

“In the Name of Love mengubah cara saya bercerita lewat film dan juga cara saya membuat film,”

Kisah film ini bermula ketika Satrio Hidayat (Cok Simbara) jatuh cinta pada Citra (Christine Hakim. Satrio muda diperankan oleh Marsha Timothy), yang kemudian memilih untuk menikahi pria lain, Triawan Negara (Roy Marten). Cintapun berubah menjadi kebencian mendalam, dan mengakar bahkan setelah Hidayat menikahi perempuan lain, Kartika (Tutie Kirana). Masa lalu yang membayangi kedua keluarga, memicu perseteruan yang lekang hingga generasi berikut. Tanpa sadar akan cerita lampau dan apa yang akan terjadi, Saskia Putri Negara (Acha Septriasa), salah seorang anak dari Triawan dan Citra, jatuh cinta pada Abimanyu Hidayat (Vino G. Bastian), salah seorang anak dari Satrio dan Kartika. Keduanya lalu memutuskan untuk meninggalkan keluarga mereka untuk menggapai masa depan bersama, atas nama cinta.

“Sebuah momen yang menentukan dalam karir saya”

In the Name of Love menampilkan aktor dan aktris senior—Christine Hakim, Cok Simbara, Tutie Kirana and Roy Marten—yang mengimbangi dua tokoh utama dalam kisah ini—diperankan oleh aktor dari generasi lebih muda Acha Septriasa dan Vino G. Bastian (Radit & Jani, 30 Hari Mencari Cinta). Semua aktor pendukung bermain dengan penuh kesungguhan dan gaya acting yang tinggi sehingga menampilkan gambar film yang elegan. Turut berkolaborasi pula sederetan nama penting dari generasi masa kini, termasuk Luna Maya, Lukman Sardi, Tengku Firmansyah, Lucky Hakim, Marsha Timothy, Dicky Wahyudi, Yama Carlos, Nino Fernandez, Helmalia Putri dan pendatang baru Panji Rahadi.

Semua aktor pendukung bermain dengan penuh kesungguhan dan gaya acting yang tinggi sehingga menampilkan gambar film yang elegan.

Berbaurnya aktor dan aktris senior dengan generasi yang lebih muda membedakan proyek ini dengan yang lainnya. Kolaborasi mereka menciptakan atmosfir kreatif, dengan panduan naskah yang disusun oleh tim penulis yang terdiri dari Titien Wattimena, Fahmi Rizal, Cassandra Massardi dan sang sutradara, Rudi Soedjarwo. Addie M. S., salah satu pendiri Twilite Orchestra, mengerjakan ilustrasi (scoring) musik untuk film ini. Musisi multi talenta ini juga menyiapkan musik untuk beberapa film-film layar lebar lainnya, termasuk Biola tak Berdawai (2003). Addie menerangkan bahwa visi sang produser memungkinkan penjelajahan musikalnya untuk bereksperimen dengan hal-hal baru yang belum pernah ia lakukan. “Bukan hanya karena banyaknya pemeran yang hebat, namun penyutradaraan oleh Rudi Soedjarwo membuat film ini kuat, bahkan sebelum dilengkapi dengan musiknya.” Tutie Kirana, yang sejak tahun 1970 sudah bermain dalam lebih dari 30 film, merupakan salah satu produser dari film ini, bersama-sama dengan Panji Wiseso dan Rama Nalapraya. “Saya tidak pernah berfikir untuk memproduksi sebuah film. Out of the blue, Rudi ngajak bikin film dari cerita yang ia tulis ini. Ternyata gagasan inipun disambut oleh banyak pihak yang sebelumnya tidak pernah terbanyangkan akan mendukung, yaitu teman-teman para pemain dari dua generasi yang berbeda,” ujar Tutie. In the Name of Love dipersembahkan oleh Softex V Class dan Valiant Circle Productions.

6 comments:

rezza said...

wah seperti biasa, mas rudi membuatku berpikir dgn film2nya. tp enjoy kok, soalnya film ini udah saya tunggu dr kapan tau. suguhan yg menarik. saya tunggu sekuelnya mas rudi...

fahry said...

GREAT FILM!!! GREAT STORY!! GREAT ACTORS!!! GREAT DIRECTION!!!
SALUTE...SALUTE!!!

Anonymous said...

Anjrit! nih film anjrit bgt!! udah lama gue nggak nonton film berkualitas kayak gini. BRAVO buat all crew !!

panji said...

good film.

patt said...

acha makin bagus aja aktingnya, bu christine hebat bgt deh aktingnya

razzie said...

filmnya suram yah..agak membosankan
tp akting pemainnya ok bgt terutama acha